3 Tip Strategi Pemasaran untuk Jangkau Calon Konsumen Indonesia

Nov 06, 2018 | id.techinasia.com

3 Tip Strategi Pemasaran untuk Jangkau Calon Konsumen Indonesia
Ditemui di sela-sela gelaran konferensi startup dan teknologi Tech in Asia Jakarta 2018, Regional Vice President Netcore Prashant Pramhans membagi pengalamannya terkait praktik pengembangan pemasaran di Indonesia. Ia menyatakan antusias terhadap perkembangan jumlah masyarakat dalam negeri yang terkoneksi dengan internet, yang menurutnya, “Berpotensi melebihi India pada tahun 2025.”

Netcore merupakan penyedia solusi strategi pemasaran untuk para perusahaan dan startup. Perusahaan yang bermarkas di Mumbai, India, ini telah melebarkan sayap ke Asia Tenggara, Timur Tengah, hingga ke Amerika Serikat. Setelah mulai beroperasi di Indonesia sejak beberapa tahun lalu, Pramhans memiliki sejumlah tip yang ia dapat dari pengalamannya membantu bisnis di dalam negeri.

Maksimalkan Instagram
Media sosial merupakan salah satu saluran pemasaran dengan akses yang mudah untuk menjangkau para pelanggan di Indonesia. Dari sekian banyak media sosial yang dipakai masyarakat dalam negeri, Pramhans menyatakan Instagram memiliki potensi terbesar pada saat ini.

Tingkat engagement dan retensi pengguna Instagram paling tinggi ketimbang platform media sosial populer lainnya di Indonesia.
--Prashant Pramhans, Regional Vice President Netcore

Ia juga mengamati bahwa respons pengguna terhadap fitur-fitur baru Instagram sangat positif. Perilaku para penggunanya ini perlu dimaksimalkan perusahaan untuk bisa berinteraksi dengan para pelanggan guna menunjang strategi pemasaran.

Orang Indonesia lebih menyukai layanan yang personal
Pramhans menyatakan tantangan terbesar yang ia hadapi ketika melebarkan sayap keluar India bukanlah kendala komunikasi atau bahasa, tapi perbedaan kultur. Masyarakat di tiap-tiap negara memiliki kebudayaan dan kebiasaan tersendiri, termasuk Indonesia.

“Di beberapa negara, konsumen merasa cukup nyaman memecahkan masalah terhadap suatu produk dengan mengunjungi layar FAQ di situs web perusahaan,” kata Pramhans memberi contoh. “Tapi tidak di Indonesia. Konsumen di sini lebih menyukai layanan personal di mana staf layanan pelanggan berdiskusi dengan konsumen melalui telepon, atau bahkan menghampiri lokasi konsumen untuk memberikan layanan secara langsung.”

Tipe masyarakat yang menyukai layanan personal berpotensi membuat perusahaan makin kewalahan seiring perkembangan bisnis dan jumlah pelanggan. Tapi dengan perkembangan teknologi zaman sekarang, perusahaan punya alternatif yang lebih efisien dibanding memperbanyak jumlah staf untuk menjangkau para konsumen tersebut.

Beberapa alternatif yang dapat diambil perusahaan antara lain dengan menerapkan automasi sejumlah aktivitas pemasaran, seperti:
Personalisasi konten email untuk para pelanggan
Pengiriman pesan-pesan pemasaran melalui berbagai saluran dan metode.
hatbot sebagai alternatif untuk memberikan layanan dengan teknologi yang cukup memberikan kesan personal bagi para pelanggan.
Optimalkan customer journey
Pramhans melihat salah satu problem pemasaran yang cukup sering ia temukan adalah masalah retensi pelanggan. Tak jarang ia bertemu perusahaan dan startup yang belum memahami langkah-langkah selanjutnya setelah melakukan promosi dan akuisisi konsumen.

“Banyak yang telah membayar mahal promosi di jalur-jalur pemasaran, seperti membeli iklan di Facebook,” kata Pramhans. “Mereka terlalu fokus untuk menjangkau sebanyak mungkin calon pelanggan baru, tapi malah kurang memperhatikan konsumen yang sudah datang mengunjungi.”

Terjadi diskoneksi di pengalaman pelanggan ketika datang mengunjungi situs web atau mencoba produk, dengan insentif untuk datang kembali hingga menjadi pelanggan berbayar. Pengalaman yang sering disebut dengan istilah customer journey tersebut kurang komprehensif, sehingga calon pelanggan terlanjur pergi sebelum merasakan manfaat atau memahami produk yang ditawarkan perusahaan.

Pramhans menekankan pentingnya mengawal para calon konsumen dengan pengalaman yang logis dan menyenangkan. Banyak cara untuk mencapai hal tersebut, seperti merancang situs web dengan desain yang mudah dipahami, menyediakan saluran-saluran komunikasi yang mudah dicari dan dihubungi, hingga menyinkronkan strategi pemasaran di beragam kanal dengan pengalaman produk itu sendiri.

Perusahaan perlu melakukan pemasaran yang efektif. Hal ini berarti merancang kampanye berdasarkan data dan analisis dari berbagai usaha atau eksperimen yang pernah dilakukan, serta menyusun strategi yang paling tepat dengan kondisi masing-masing. “Kini, perusahaan bisa memanfaatkan banyak tool dan layanan yang tersedia untuk membantu melakukan hal ini,” pungkas Pramhans.

(Kredit foto: Freepik)